Tittle
: Princess Moon
Genre
: Fantasy, sad
Rating : 13+
Leght
: Two
shoot
Cast
: - Sora a.k.a Luna
- Ryu
- Sena
- Kyu
Disclamer : FF ini aku
persembahkan buat temenku, Mia Soraya. Ini adalah realisasi dari mimpinya bersama orang yg udah jd bagian dari masa laluku.
Semoga suka ya ;)
^^Happy Reading^^
“ Kala hujan sore itu.. Jutaan
tetes air hujan turun bersama jutaan perasaan yang tersimpan di dalamnya.
Sedih, senang, seperti melihat pada dua sisi yang berbeda. Jatuh bebas tanpa
arah dan tujuan, hanya berusaha untuk menyentuh sesuatu dan mencapai tempat
yang nyaman untuk tinggal sementara waktu.”
“Tap, tap, tap” terdengar suara langkah kaki sesorang
menyusuri lorong. Perlahan dengan pandangan waspada berusaha untuk memandang
hal yang lebih luas.
“Ryu? Kau mau kabur lagi?” terdengar suara langkah seseorang
yang mendekat, memperjelas bayang-bayang
yang menggetarkan jiwa. Dengan gugup Ryu berusaha mengangkat kepala dan menatap
seseorang yang berdiri di depannya.
“eeh.. kak Kyu.. e..e.. Ku mohon jangan beritahu ayah ya kak. Aku hanya keluar
sebentar , tidak akan lama. Hanya untuk melihat pemandangan. Baiklah, sampai
jumpa nanti ya kak” Dengan langkah cepat
Ryu pergi meninggalkan sepupunya.
“Tapi Ryuuu!!!” Teriak Kyu
“Jangan khawatir! Aku akan segera kembali! Sampai nanti!“,
kata Kyu dengan suara yang semakin melemah.
Dari arah jauh, Kyu hanya menatap cemas pada bayaing” Ryu
yang perlahan menghilang.
Ryu POV
“Huh.. hampir saja aku gagal. Untung saja yang melihatku
hanya Kak Kyu”, kataku dengan perasaan lega.
Perlahan-lahan sinar dari luar
lorong semakin jelas, menggambarkan indahnya pemandangan hutan pagi hari. Embun
yang lembut, langit yang biru, pepohonan hijau, dan air yang membasahi
dedaunan. Dengan riang aku melangkah menyuri hutan. Memandang banyak keindahan
yang tidak dapat kutemui di istana. Disini aku bisa merasakan hidup yang
sebenarnya,. Bebas dan penuh rintangan.
Sungguh menyenangkan.
Mataku tertuju pada sesuatu disana.
Setetes air di atas daun talas yang menambah keindahannya. Perlahan kudekatkan
pandanganku padanya. Tapi.. apa yang ada di belakang sana? Sesuatu yang
terlihat begitu samar terselip di sisi daun talas. Dengan langkah hati-hati aku
mencondongkan kepalaku, berusaha untuk melihat sesuatu di bawah jurang. Astaga…
siapa itu? Mengapa ia bisa sampai tergeletak disana? Dengan cepat aku turun ke
bawah jurang menyusuri semak belukar. Dari jauh terlihat seorang gadis kecil
dengan gaun yang… Cukup unik. Terlihat cahaya yang memancar dari tubuhnya.
Sungguh menawan.
“Nona.. Nona..”, ucapku sambil mengoyangkan bahunya. Rasa
dingin menusuk hatiku saat tanganku menyentuh pipinya. Kasihan sekali, dia
pasti sudah lama kedinginan disini.
Sora POV
Sinar
terik pagi hari menembus kelopak mataku. Sayup-sayup terdengar suara seseorang
memanggilku. Kucoba untuk membuka mata. Samar-samar tergambar wajah seseorang.
Perlahan semakin jelas. Senyuman tulus yang memberiku keberanian. Tapi, siapa
dia?
“Kyaaaaa!!!!”, teriakku panik. Astaga.. sejak kapan ia terus
melihatku seperti itu?
“Apa kau sudah sadar? Syukurlah.. lama sekali aku menunggu
disini sampai kau bangun”
“E, kau siapa? Mengapa menungguku disini?”, ucapku sambil
menggeserkan tubuhku.
“Ah, kau tak tahu aku?”
“Tt-t-tidak”, ucapku gugup
“Aku pangeran di negeri ini. Dan, kau siapa?”
Nama? Tidak! Dia tidak boleh tahu siapa aku!
“Aku tidak punya nama”, ucapku bohong
“Ah? Kenapa bisa begitu? Lalu, dari mana asalmu?”
“Aku dari…”, ucapku sambil menunjuk ke arah langit.
“Ah? Langit? Nama negerimu negeri langit?”
“Mmm..”, ucapku sambil mengangguk ragu.
“Haa.. mungkin kau belum sadar sepenuhnya. Baiklah..”
“Tidak, ini sungguh. Apa kau tahu tentang Sailor Moon?”
“Ha? Apa itu? Prajurit istana?”
“Bukan. Sudahlah.. kau pasti tidak akan mengerti. Ah, dimana
kameraku?”, tanyaku panik
“Ha? Kamera? Maksudmu ini?”, katanya sambil menunjukkan
sesuatu. “Apa ini?”, tanyanya penasaran.
“Kau juga tidak tahu ini? Ini kamera. Untuk membuat gambar,
seperti ini”, kataku sambil memotret ke arahnya.
“Ah.. Ini aku? Bagaimana bisa alat itu membuat benda yang
serupa denganku?”, tanyanya heran.
“Ini barang dari negeri kami. Negeri kami memang sedikit
lebih maju”
“Oh.. Begitukah?”
“Mmm.. Siapa namamu?”, tanyaku penasaran.
“Ryu”
“Ah? Ryu? E.. Iya.. Salam kenal Ryu”, ucapku sambil
mengangkat tanganku.
“Salam kenal”, ucapnya sambil membalas jabatan tanganku.
“Tapi.. aku tidak tahu namamu. Bagaimana kalau aku memanggilmu Sora? Kau bilang
kau berasal dari langit kan?”
“Eh.. Iya.. So-ra, nama yang bagus..”
“Baiklah, So-ra, kau mau melihat istanaku?”
“Mm.. Bolehkah? Baiklah”
Dengan
hati-hati Ryu menuntunku menuju ke atas jurang. “Dag dig dug” jantungku
berdetak tak beraturan saat ku lihat genggaman tangannya.
“Dia yang membuatku bisa melihatmu”, ucapnya sambil menunjuk
ke arah setangkai daun talas.
“Ah? Daun talas?”, tanyaku bingung.
“Ya.. Dan setetes air yang ada di atasnya”, katanya sambil
tersenyum
“Iya.. Sangat cantik..”
“Hmm.. Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita”
“Iya”, kataku mengangguk.
Perlahan
kami
menembus hutan. Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan yang sangat
megah. Pasti itu istananya. Eh? Istana? Bukankah disana ada banyak
orang? Tidak bisa!
Aku tidak bisa kesana! Aku harus pergi sebelum ada yang mengenaliku.
“Eh, Ryu.. Sepertinya aku harus pulang sekarang”, kataku
panik.
“Ah? Kenapa cepat sekali?”, tanyanya heran.
“Tidak bisa. Ayahku pasti akan memarahiku”, ucapku bohong.
“ Tapi..”, katanya sambil menahan tanganku.
“Tenang… Setiap hari aku akan dating kesana. Tunggu saja aku
di samping daun talas yang kita lihat tadi. Baiklah, sampai jumpa Ryu!”
“Sampai Jumpa”
Dengan cepat aku berlari, perlahan menyusuri lubang hitam.
“Setetes air hujan jatuh di
atas daunt alas. Berusaha menyentuh dan menembus batas. Berjuang untuk tetap
tinggal meskipun ia tahu pada akhirnya ia akan terjatuh”
Ryu POV
Embun
yang di pagi hari seakan melintasi tubuh. Menggetarkan jiwa, memberi
kelembutan. Ku lihat pemandangan sekitar, melewati jalan yang telah kulewati
setiap hati. Tapi, entah mengapa setiap hari aku selalu bersemangat melewati
jalan ini. Bagiku, setiap hari seperti lembaran buku yang mengawali sesuatu
yang baru. Terlihat setangkai daun talas yang selalu kupandangi setiap
hari. Tapi, dimana setetes air yang
selalu tinggal disana? Apakah dia telah terjatuh? Pandanganku berbalik kea rah
seseorang yang duduk sambil menatap jauh ke arah sana. Seseorang yang tidak
asing bagiku, yang membuat kakiku melangkah menuju tempat ini.
“Sora”, panggilku.
Iapun menoleh dan tersenyum padaku. Senyuman lirih, seperti
menyimpan sebuah kekecewaan.
“Apa itu?”, tanyanya sambil melihat ke arah biola yang ada
di tanganku.
“Ini biola klasik. Aku sengaja ingin memainkannya di
depanmu. Sekarang aku sudah pandai memainkannya. Kau akan menjadi orang pertama
yang melihat keberhasilanku”, ucapku bangga.
“Hahaha.. Baiklah.. Mainkan itu untukku”
Perlahan
aku mulai menggesek senar-senar biola.
Jari-jari tanganku menari membentuk alunan yang sangat lembut. Sambil menutup mata, kurasakan kehangatan
disetiap nadanya. Begitu permainan selesai, pelahan kubuka mataku. Ku lihat air
yang mengalir membentuk anak-anak sungai melintasi pipi Sora.
“Kenapa kau menangis?”, tanyaku bingung.
“Ah.. Tidak.. Aku hanya terharu. Ini pertama kalinya aku
mendengar alunan biola”, ucapnya sambil mengusap air mata di pipinya.
“Ah? Benarkah?”
“Iya”, katanya dengan suara lemah.
Kicauan
burung menemani kesunyian kami. Langit yang mendung mengisyaratkan akan
turunnya hujan.
“Ryu..”, kata Sora berusaha memecah keheningan.
“Ya?”, jawabku sambil menoleh ke arahnya
“Terkadang aku merasa sangat beruntung bisa memiliki teman
sepertimu. Senyumanmu menguatkanku, merubah segala pandanganku. Aku sangat
berterima kasih. Aku akan selalu mengingat saat-saat dimana aku bisa melewati
hari-hari bersamamu. Kuharap, kau juga begitu, meskipun aku sudah tidak berada
disini lagi”, katanya dengan suara getar.
“A-apa maksudmu?”, tanyaku bingung.
“Ini mungkin yang terakhir kali. Aku tidak bisa ke sini
lagi”, katanya sambil terisak
“Ha? Sora, kau bercanda?
Lihat, kau akan kalah nanti”, kataku tidak percaya.
“Maafkan aku Ryu.. Aku harus pergi. Terimakasih untuk
kenangan yang telah kau berikan selama ini. Selamat tinggal..”
Dengan cepat ia berlari, meninggalkan diriku yang mesih diam
terpaku disini. Kulihat bayangan dirinya yang semakin memudar. Bayangan yang
tidak pernah kulihat lagi nanti.
“Sora...”
Tubuhku terjatuh bersama dengan kekecewaan yang telah
menumpuk di dalam hatiku. Begitu menyakitkan rasanya. Sora? Mengapa kamu pergi?
Princess Moon shoot 1 - End
Princess Moon shoot 1 - End
